Mengenal Tradisi Muyen, Menjaga Bayi Baru Lahir di Sukamaju Pangandaran

 

Mengenal Tradisi Muyen

Mengenal Tradisi Muyen, Menjaga Bayi Baru Lahir di Sukamaju Pangandaran


Pernah dengar tentang tradisi muyen? Mimin pertama kali tahu tradisi ini setelah menjadi bagian dari keluarga warga Desa Sukamaju.


Waktu itu, suasana di rumah tetangga sebelah ramai meski sudah larut malam. Bukan acara hajatan atau kumpul keluarga biasa, ternyata mereka sedang menjalankan tradisi muyen! 


Muyen adalah tradisi menjaga bayi yang baru lahir yang dilakukan sejak bayi lahir hingga tali pusarnya lepas.


Biasanya, yang ikut muyen adalah tetangga dan sanak saudara dari pihak yang melahirkan.


Mereka bergantian berjaga dari malam hingga menjelang subuh, memastikan ibu dan bayinya tetap aman. 


Asal Usul Tradisi Muyen


Tradisi ini berakar dari kepercayaan masyarakat Jawa zaman dulu. Konon, ibu yang baru melahirkan memiliki kecantikan alami yang disukai oleh makhluk gaib.


Bukan cuma ibunya, bayi yang baru lahir juga dianggap lebih rentan terhadap gangguan makhluk halus.


Nah, muyen dilakukan agar sang bayi nggak rewel terus dan tetap dalam kondisi sehat. 


Uniknya, tradisi ini bukan hanya ada di Jawa. Di Desa Sukamaju, Kecamatan Mangunjaya, Pangandaran, tradisi ini masih tetap lestari hingga sekarang.


Salah satu alasannya karena wilayah ini berbatasan dengan Jawa Tengah, sehingga terjadi persilangan tradisi dan budaya.


Bahkan, banyak warga yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.


Warga setempat juga sangat menyukai kesenian khas Jawa, yaitu ebeg. 


Makna Sosial dan Kebersamaan dalam Muyen
  

Lebih dari sekadar kepercayaan, muyen juga memiliki nilai sosial yang tinggi.


Bayangkan saja, sanak saudara dan tetangga datang membantu menjaga bayi dan ibunya tanpa pamrih.


Di sinilah terlihat betapa kuatnya ikatan sosial di masyarakat. 


Selain itu, muyen juga menjadi ajang berbagi cerita dan mempererat hubungan antarwarga.


Biasanya, saat berjaga, para peserta muyen akan berbincang tentang berbagai hal, mulai dari kehidupan sehari-hari, pengalaman melahirkan, hingga cerita-cerita turun-temurun. 


Muyen di Era Modern, Masihkah Bertahan? 


Meski zaman terus berubah, tradisi muyen masih tetap dipertahankan di beberapa daerah, termasuk di Pangandaran.


Namun, tantangan pasti ada. Kini, nggak semua orang bisa ikut muyen karena kesibukan pekerjaan atau alasan lainnya. 


Namun, keluarga yang masih memegang teguh adat istiadat tetap menjalankan muyen dengan cara yang lebih fleksibel. Misalnya, hanya keluarga inti yang berjaga atau dilakukan dalam durasi lebih singkat.


Yang penting, esensi dari muyen tetap ada, yaitu menjaga bayi dan ibunya agar tetap nyaman dan terhindar dari hal-hal yang nggak diinginkan. 


Tradisi muyen bukan sekadar ritual, tapi juga simbol gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi.


Meskipun zaman berubah, nilai-nilai di balik muyen tetap relevan dalam menjaga kebersamaan dan keamanan ibu serta bayi yang baru lahir.


Kalau kamu main ke Desa Sukamaju, Pangandaran, jangan heran kalau masih menemukan tradisi ini! 


Baca juga : Mantra Singlar: Penolak Bahaya dalam Budaya Sunda

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar